Kamis, 29 Oktober 2015



KUMPULAN PUISI SEDIH TERBAIK


"gadis malang bergenggam tasbih”
Sekali duduk beribu kalimat keluar dari bibir kecil nya
Terpojok dalam keramaian dunia nya
Entah apa yg membuat mereka semua berguming tentang nya
Dia amat lugu dan aneh tutur mereka
Hidup yg malang tanpa sanak saudara
Dia itu punya siapa,?
tak ada yg tauh ataupun sudih untuk memungut nya
hanya Seutas tasbih berkalung di genggaman tangan nya
Dia sungguh aneh
Dia makan,dia minum,tapi dia tak terlihat di keramaian
Mereka bingung pada gadis kecil itu
Bibir nya yg slalu terbuka kecil untuk menyebut kata dari hati nya
Tangan yg menggenggam tanpa di buka oleh nya
Sungguh gadis malang ,dia teramat malang,dari semua orang yg merasakan kemalangan di dunia ini
                

                                                                                                                        







“menanti kematian”
Bibir bergumam sendiri
Melihat langit tak jua runtuh
Bingung kurasa hidup ini
Tak ada yg di banggakan lagi
Batu nisan telah menunggu ku
Tanah kubur menanti ku
Para pecangkul berharap kedatangan ku
Kapan waktu nya aku
Sehingga aku bisa membalas penantian mereka
Mengapa tuhan tak kunjung mengambil ku?
Apa yg iya harap kan dari hidup ku
Aku tak mampu menjalani ini
Mereka Semua tak henti-henti mengusik kehidupan ku
Ambil aku
Ambil lah hidup ku
Dan cabut nyawaku








“bulan menggambar cinta”
Malam bermelodi  Lirih gelora menyapa hadir mu
Mencoba merasakan semilir  kasih sayang mu
Ku lihat bulan pada tengah malam yg begitu menggoda suasana
Entah apa yg membuat ku terpesona
Paras nya,sinar nya,ataupun cahaya nya
Aku pun tak tau,
Malam nampak tenang ,Jiwa nampak tersenduh
melihat panorama kecantikan nya yg menggebu-gebuh
Melamunkan puncak getaran cinta yg tergambar pada wajah bulan
Sepercik mozaik kecil yg serupa dg intan
Harta kekaya,an yg tak pernah bisa sepadan
Bulan  menggambar cinta pada tengah malam
Entah hati siapa yg membuat nya merasa merasa tenggelam
Seakan menggambarkan jiwa yang ber angan-angan
Menuju kepastian dalam ridzho tuhan.



                    

        




                                                                      “Ayah pemabuk”
Malam tak kunjung pulang
Pagi tak jua datang
Datang nampak tiada beban
Ayah,,,
Sadarkah apa yg telah engkau lakukan
Kau menjadi musuh iman
Ayah,,,
Tiada malam tanpa mabuk
Saat itupun anakmu kau cambuk
Ayah,,,
Sudahi semua kehidupan malam mu
Bukalah hati mu
Ayah,,,
Ingatlah aku anak mu
Aku terpuruk dengan kisah kehidupan mu
Ayah,,,
Aku mendo,a kan mu
Agar kau terjatuh dalam pelukan tuhan mu,
Dan tak terjerumus pada golongn-golongan pemusnah mu.






                                                     “mereka”
Dunia begitu jauh pada kedamaian
Semua nampak hancur tak terkendalikan
Tangan jahil yg senantiasa membuat dunia murka
mereka Para memuda yg tak mampu mengendalikan nafsu nya
Mereka pun Para wanita yg terlindas keangkuhan sifat duniawi nya
Rakyat miskin yg terinjak dan semakin terinjak atas ulah mereka
Sungguh hancur lah dunia karena ulah mereka
Mereka Yang tak punya hati
Pintar,namun tak punya budi pekerti
Kaya raya ,namun miskin hati,
Lihat lah..
Anak kecil berlali di jalanan menadah uang
Hanya Demi sesuap nas i  iya rela berkorban
Lihat lah...
kakek tua yg banting tulang di pinggiran jalan
nenek tua yang berusaha untuk mencapai kebahagia,an
sejujur nya anak kecil,kakek,dan nenek itu lebih beruntung,
karena iya tak mengambil hak orang lain,








                                                                                 “kepergian ayah”
Dari mimpi menggapai raga mu
Dari jauh memandang senyum mu
Sekilas melihat mu secepat kepergian mu
Ayah
Anak mu belum mengerti
Entah apa yg sedang di alami
Malam yg penuh tangis
Dan Teriakan yg histeris
Ayah
Ada apa?
Banyak orang yang datang menghampiri  ayah
Banyak pula lantunan-lantunan syair di sekeliling ayah
Ayah
Aku tak akan menangis
Tolong jawab anakmu dg senyuman manis
Ayah
Mengapa kau diam
Mengapa semua orang menatap ku dg tajam
Aku merasa ada beban ayah,
Tolong lah anak mu



                                                                           “Kulih batu”
Terik mentari musuh hidup mu
Hujan mengguyur derita tentang mu
Banyak nya keringat yang kau telan kembali
Uang mengalir tak terkandali
Beban kau angkat
Namun tiada pangkat
Tangan tergores mengering
Punggung membungkuk berguling
Waktu berjalan dg sesuai
Kisah tak kunjung  usai
Menempuh hidup yg damai
Dg sejuta harapan kami






                                                                                                  oleh:mahfudzotul bariyyah